Langsung ke konten utama

Postingan

Opin Jalan-jalan!: Ada apa sih di Ibu Kota? #1

Kepenatan skripsi dalam 5 bulan terakhir kemarin, membuat saya uring-uringan sendiri. Hanya satu dibenak saya saat itu,  travel!  Saya berpikir ini adalah satu-satunya cara agar pikiran saya kembali segar dan dapat menulis bab selanjutnya dengan baik. Tapi, dengan keterbatasan budget untuk jalan-jalan ke luar kota, saya pun memutuskan untuk berkeliling Jakarta. Terdengar membosankan?  https://aenze.blogspot.com/2013/01/tunggu-dulu-puisi-martinus-sihwanto.html      Destinasi wisata di Jakarta memang bukan berpusat di destinasi alam, seperti gunung ( yaiyalah! ) atau pantai. Walaupun ada pantai di ujung Jakarta sana. Nah, karena saya memang lebih suka wisata yang ada edukasinya, makanya saya milih untuk berkunjung ke museum dan galeri seni. Maka kemarin saya menghibur diri saya dengan putar-putar ke destinasi yang memang mengedukasi. Kemana sajakah saya? Mungkin bisa jadi referensi untuk kamu-kamu yang ingin 'cuma' muter-muter naik Trans Jakarta ta...

Akhir tahun, akhirnya.

Tahun 2017 akan segera berakhir. Saya berhenti sejenak, merenung, berpikir apa saja yang sudah saya lakukan di tahun ini. Saya tersenyum dan bersyukur atas semua hal yang terjadi di tahun ini dan tahun-tahun yang lalu. Tapi, tahun ini rasa syukur saya mungkin berlipat-lipat.  Saya bangga dengan saya tahun ini . (ew?) Awal tahun saya buka dengan segala hal yang berhubungan dengan kepusingan skripsi. Dari mencari dosen pembimbing sampai dengan menyerahkan proposal awal. Kemudian saya berjibaku dengan judul yang berganti beberapa kali hingga akhirnya saya sedikit menyerah dengan melarikan diri dari hal-hal tentang skripsi. Saya kemudian mengambil kesempatan untuk bisa magang di salah satu startup terkemuka di tahun ini, Ruangguru.com. Berada di bagian HRD membuat saya belajar bagaimana sebuah perusahaan merekrut karyawan-karyawan yang nantinya akan berkontribusi untuk perusahannya. Walaupun tidak linier dengan latar belakang pendidikan saya, tapi saya senang dan bersyukur bis...

There's nothing wrong, I think.

Halo! It's good to be back here, bloggie. #FYI akhirnya Rorien Novriana si Tukang Galau Hal-hal Receh officially a Bachelor of Arts. I'm beyond proud of my self, deep inside. But when someone said it to me, i'm not. I am not proud at all. Such a weird feeling and lately I googled it. What this kinda feeling that I had? So, just call it Fear of Compliments disease. *sigh* Skip. Jadi, bukan tentang virus aneh yang melanda pikiran saya yang mau saya tulis hari ini. Beberapa hari ini ada pikiran yang cukup mengganggu dan saya tidak tau harus ajak diskusi siapa. Jadi hal ini adalah tentang kepolosan dan keberkahan. Kepolosan - ada beberapa hal dalam beberapa hal /idk how to explain it/  yang ketika ada orang lain memberi tahu saya, saya akan merespon dengan "Ha? demi apa kaya gitu? Kok gue gak tau deh caranya kaya gitu?" Let say, "menjilat" bos. Jadi ada yang cerita mengenai orang kaya gini di kantornya dan reaksi saya adalah seperti itu. Tap...

#NotetoMySelf Tiga Kunci

Hari ini saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang saya sudah berada dalam sebenar-benarnya kehidupan. Lulus dari perkuliahan lantas tidak membuat kehidupan saya lebih mudah, malah membuat saya harus selalu menguatkan diri saya dan tidak boleh lagi cursing diri saya. Untuk diri saya, ini adalah tiga kunci yang saya berikan sebagai pengingat setiap detiknya. Tetaplah bungkus pikiranmu bahwa dunia ini hanya sementara ketika kamu mulai lelah, namun jangan pernah berhenti. You can take a break, but don't quit . Istigfar - Sudah berpikir berapa banyak dosa yang kamu lakukan tiap detiknya? Maka perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan memaafkan sedikit demi sedikit tumpukan dosamu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan mempermudah langkahmu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan selalu mengizinkanmu untuk dapat dekat denganNya. Tahmid - Sudah pernah mencoba menghitung nikmat apa yang Allah berikan kepadamu setiap menitnya? Kamu p...

#PoemSeries Si Ingin Dekat

Telah lama diri ini ingin mendekat pada yang lain untuk mengenal untuk membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri Namun, si ingin dekat ini harus menerima bahwa yang lain pun butuh jarak butuh spasi dalam setiap hubungannya pertemanan pun percintaan Si ingin dekat ini kemudian belajar untuk memahami bahwa tidak semua kotak kehidupan dapat ia dekati walau hanya untuk mengintip Si ingin dekat ini selalu berusaha untuk berada di sisi mereka namun ia berulangkali lupa ia pun harus selalu hadir untuk dirinya menghibur dirinya Jarak -  Si ingin dekat kemudian belajar untuk berjarak memberi jarak pada kotak kehidupan lainnya Ia berpikir mungkin jarak akan menyembuhkan mungkin jarak akan menguatkan mungkin jarak akan kembali membuat mereka dekat.

#NotetoMySelf: Allah akan Mengurus Masalahmu

Waktu lalu, saya pernah bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sih mesti sepeduli itu dengan orang lain? Kenapa sih selalu ingin berada di sisi orang lain ketika mereka sedih? Emang mereka sepeduli itu sama lo? Emang mereka selalu ada di saat lo lagi butuh semangat? Emang mereka seberusaha itu buat lo? Nggak kan? Perasaan dan pikiran negatif selalu berada di sekitar saya ketika hormon progsteron saya sedang tinggi. Saat-saat seperti ini membuat saya selalu kesal dengan diri saya sendiri dan down-grading diri saya sendiri. Rasanya saya ingin separate dari diri saya sendiri yang padahal yang sedang berpikir ini juga ya diri saya sendiri. How complicated, huh?  Lalu saya sempat ingin berhenti untuk peduli dengan sekitar saya; pura-pura tidak tahu. Perhitungan saya ternyata masih tentang dunia. Perhitungan saya masih tentang jika saya memberikan orang 1, ya saya pun harus menerima 1. Tapi, perhitungan manusia tidak pernah akan seindah dan sebaik perhitungan Allah. Saya ba...

Percaya dan Yakin

Sebagai muslim, perkara percaya dan yakin adalah poin yang penting. Saya sudah menjadi seorang yang beragama Islam, namun baru memahami arti percaya dan yakin ini beberapa bulan terakhir. Kebanyakan manusia harus diberikan ujian dahulu baru memahami apa yang Allah maksud. Lagi-lagi Allah terlalu baik pada hambaNya ini. Pada hakikatnya, manusia tidak mampu bahkan tidak sanggup untuk mengurusi semua urusan dunianya. Dalam beberapa peristiwa yang saya alami beberapa bulan ini membuat saya mulai sedikit demi sedikit menyertakan Allah dalam setiap urusan saya. Dari hal sangat penting sampai hal kecil dari hidup saya. Kenapa harus pelan-pelan? Menurut saya, saya masih dalam tahap belajar, sehingga saya tidak ingin terburu-buru dan ingin menikmati proses saya mendekati Yang Kuasa. Dalam proses yang pelan-pelan ini pun saya masih sering khilaf dan lupa menyertakan Allah dalam setiap urusan saya. Tapi lagi-lagi Allah Maha Baik, mengingatkan hambaNya kembali. Saya mulai membangun percaya ...