Langsung ke konten utama

Surat Cinta untuk Rabbnya - Penghujung Waktu

Ampunan, keberkahan, rahmat, dan banyak nikmat lainnya Allah limpahkan dalam satu bulan ini, di bulan Ramadan.

Hadiah untuk 10 malam terakhir pun tidak main-main - lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Bahkan umur manusia di zaman ini tidak akan sampai sebegitu lamanya.

Hadiah yang begitu besar ini setara pula dengan godaan duniawinya. Dengan narasi kemenangan, dengan narasi menyambut Idulfitri, tak jarang orang jadi terlena - melonggarkan ikat pinggang. Banyak kegiatan di siang hari, kelelahan di malam hari - hingga tak ada waktu untuk menghidupkan malam-malam yang paling Allah berkahi.

Rasulullah pada malam-malam ini mengurangi tidurnya dan terjaga, berdiri hingga kakinya bengkak. Pun seorang sahabat bertanya, 

'Mengapa engkau sholat sampai sebegitunya ya Rasul, padahal Allah telah menjamin surgamu?'
'Apakah aku tidak boleh bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang sudah Ia limpahkan padaku?'

Rasulullah bermunajat hingga bengkak kakinya.

Salah satu kisah favorit saya sekaligus pengingat - seorang yang sudah Allah jamin surganya masih bersusah payah dalam ibadah demi ridhoNya, lalu saya?

---
Ramadan sudah di penghujung hari. Ramadan pasti kembali, namun kita yang belum tentu bertemu dengannya.

Sedih sekali rasanya tahun ini tidak bisa menggenapi malam-malam terakhir dengan baik, dengan sungguh-sungguh. Namun harus bersyukur sebab banyak nikmat yang Allah beri - tidak pernah kurang. 

Ramadan sudah di ujung waktu, Ramadan akan pergi. Rasanya doa saya diijabah di Ramadan tahun lalu, agar bisa merasakan Ramadan di tahun ini. Di penghujung waktu ini, rasanya doa saya masih sama - semoga Allah masih memberi kesempatan untuk merasakan nikmat Ramadan, nikmat berdoa di waktu-waktu hening, di waktu-waktu Allah terasa dekat sekali. Nikmat membaca berlembar-lembar Alquran. 

Ibadah di bulan Ramadan memang selalu terasa berbeda. 
Kenikmatan yang tidak bisa dirasakan di bulan-bulan lain, mungkin karena itu Ramadan akan selalu jadi bulan spesial.

Terima kasih untuk kesempatannya, ya Rabb.

Komentar

Popular

Surat Cinta untuk Rabbnya - Pasrah

Ingatan saya kembali pada hal-hal yang selalu Allah berikan untuk saya. Bagaimana proses saya menuju hal tersebut. Pasrah. Semua Allah beri ketika keadaan saya pasrah, ketika saya tak berharap pada apapun, ketika saya berkata 'Yang terbaik menurutMu ya Rabb'. Untuk sampai di titik itu lagi, Saya butuh hati yang benar-benar lapang. Tak terjerumus pada kesemuan dunia. Ya Rabb, Saya belum dalam keadaan pasrah lagi pada tiap ketentuan dan ketetapanmu. Ya Rabb, Bantu saya untuk memasrahkan semuanya, hingga hati ini tak lagi gelisah, hingga diri tak lagi meronta. Ya Rabb, Jadikanlah hambaMu pasrah..

#NotetoMySelf Tiga Kunci

Hari ini saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang saya sudah berada dalam sebenar-benarnya kehidupan. Lulus dari perkuliahan lantas tidak membuat kehidupan saya lebih mudah, malah membuat saya harus selalu menguatkan diri saya dan tidak boleh lagi cursing diri saya. Untuk diri saya, ini adalah tiga kunci yang saya berikan sebagai pengingat setiap detiknya. Tetaplah bungkus pikiranmu bahwa dunia ini hanya sementara ketika kamu mulai lelah, namun jangan pernah berhenti. You can take a break, but don't quit . Istigfar - Sudah berpikir berapa banyak dosa yang kamu lakukan tiap detiknya? Maka perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan memaafkan sedikit demi sedikit tumpukan dosamu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan mempermudah langkahmu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan selalu mengizinkanmu untuk dapat dekat denganNya. Tahmid - Sudah pernah mencoba menghitung nikmat apa yang Allah berikan kepadamu setiap menitnya? Kamu p...

Hitam

Setelah sekian lama tidak bertemu dengan titik hitam itu, ia kembali menemui saya. Mungkin tak segelap dulu, tapi tetep menyiksa. Segala gelisah dan cemas, saya paksa redam dalam tidur berjam-jam. Namun, rasa tak enak masih ada dan seperti tak berkesudahan. Saya harus merelakan tiga hari untuk meringkuk di kasur. Berusaha menerima segala emosi negatif yang sedang datang membelenggu. Semua daya upaya untuk meredakannya seperti ditepas sana dan sini. Tak ada pilihan selain merangkulnya, menerima diri saya yang sedang meredup. Pikiran yang lalu seakan bersautan.  "Kenapa.." ada di tiap bagian otak saya yang tentu saja tidak akan menemukan jawabnya. Dan dari semua yang paling menyiksa adalah pikiran bahwa saya sendirian. Berulang kali saya coba katakan bahwa hal itu tidak benar, tapi berulang kali juga sisi waras saya kalah. "Iya, saya sendirian. Iya, tidak ada yang peduli. Iya, dunia akan selalu baik-baik saja meski saya tidak ada." Lalu, sekelebat bayangan keluarga me...

Takut

"Boleh jadi sesuatu yang kamu senangi itu tidak baik untukmu, dan boleh jadi sesuatu yang tidak kamu senangi itu hal yang baik untukmu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." Hari ini, saya berusaha menanamkan ke diri lagi soal ayat ini. Saya lagi dan lagi berusaha untuk melapangkan dada atas sesuatu yang memang tidak Allah tetapkan untuk saya sekarang. Berkali-kali berucap "mungkin ini jawaban dari Allah atas doa saya waktu itu." Tapi, saya terlalu lemah. Selalu butuh kekuatan dari Allah untuk menghadapi semuanya. Allah lebih tahu diri saya melebihi saya. Lebih sayang saya, daripada diri saya.  Saya berusaha mencerna, apa sebab saya sedih, ternyata alasannya ada beberapa. Takut jadi salah satunya. Saya takut, kepercayaan yang berusaha saya bangun runtuh dan jadi tidak mampu mempercayai laki-laki. Saya takut keinginan saya menikah untuk menyempurnakan agama hilang begitu saja. Saya takut, saya menutup diri lagi dan entah kapan bisa membukanya lagi. Saya takut kembali ...

Yakin dan Cemas

Pikiran yang saling berseberangan dan membelakangi sedang memenuhi pikiran. Tentang hal apa, saya tidak tahu pasti. Bila dikerucutkan, gelembung pikiran-pikiran ini menuju dua hal, pekerjaan dan percintaan. Dua hal yang sudah Allah tetapkan sejak ribuan tahun lalu. Hal yang sebenarnya tak perlu manusia cemaskan. Tapi, saya membohongi diri sendiri jika saya tak cemas atas hal itu. Dua pikiran itu sudah mengganggu beberapa minggu belakangan. Puncaknya, saya merasa tak bisa bangun dari tempat tidur, bahkan sekadar untuk beraktivitas kecil. Saya meringkuk, membenamkan diri dalam tidur meski rasa kantuk saya sudah habis. Tiga hari yang cukup menyiksa karena saya kehilangan diri saya setelah sekian lama tak pernah merasa seperti itu. Dampaknya, mood saya untuk berkomunikasi lenyap. Tak ingin berinteraksi karena merasa tak ada lagi tenaga untuk basa-basi. Tanda tanya memenuhi diri. Kenapa kondisi ini terbilang parah? Karena pikiran bahwa dunia akan baik-baik saja bila saya tidak ada tetiba me...