Langsung ke konten utama

Hamba

Manusia itu dasarnya rapuh, lemah, tak berdaya. Bisa kuat, bangkit, dan menghadapi hal yang tak mengenakan semata-mata karena kebaikan Tuhannya.

Tanpa itu? Apalah daya. Tidak ada. 

Manusia dengan jemawanya berkata saya kuat, saya paling. Padahal, itu hanya kekuatan Tuhannya yang ditampakkan baru sepersekian. Padahal, yang tampak adalah kebaikan Tuhannya atas dia.

Tanpa rahmat, tanpa rahim, manusia tidak ada artinya. Padahal manusia hanyalah hamba, tapi selalu merasa paling. 

Menjadi hamba berarti mengakui kelemahan diri. Mengakui bahwa ada Yang Maha Kuat, Yang Maha Menguatkan. Menjadi hamba berarti pasrah atas Yang Maha Mengendalikan. Menjadi hamba berarti tahu bila ada yang akan selalu sayang, selalu menolong. Menjadi hamba berarti tak lagi berharap pada manusia yang kedudukannya setara tapi berpasrah pada Yang Maha Tinggi.

Komentar

Popular

Bising

Luarku tampak tenang Tapi, otakku bergemuruh Seperti ombak di tengah samudera Menghantam kapal-kapal nelayan Yang tengah mencari ikan. Aku diam Namun, kebisingan ini tak mau hilang. Aku menangis, Kukira ia akan pergi melalui Rembesan air yang mengalir. Suara-suara itu masih ada Tak mau diam Hingar bingar itu masih terasa Tak mau pergi Perutku pun bergemuruh Meminta haknya yang tak jua diisi Karena hingar bingar ini membunuh Semua rasa laparku Aku menutup mata Masih dengan harap yang sama Hanya supaya tak lagi bising Sudah berhenti Aku ingin memejamkan mata sejenak Kembalilah di waktu lain

Kalau Saya Boleh Memutar Waktu

Saya pernah mendengar percakapan seperti ini ketika suatu hari ada acara keluarga; "Katanya nanti pas SMP, Rama mau dimasukin pesantren, padahal kakak-kakaknya sarjana semua.." WALA. Pernyataan yang cukup bikin saya mengernyitkan dahi. Dulu sekali ketika saya masih berada di zaman jahiliyah (yadu), persepsi yang ditanamkan pada otak saya mengenai pesantren itu negatif. Mengapa? Ya karena keluarga saya mengatakan bahwa pesantren itu tempatnya anak-anak nakal. Pesantren itu tempat di mana si anak-anak nakal ini 'dididik dengan cara yang sangat tegas' agar ketika keluar pesantren tidak lagi jadi anak nakal. Pola didiknya seperti disuruh mengepel lantai, nyapu, masak, pokoknya kegiatan-kegiatan semacam inilah. Penanaman ide ini timbul karena adanya pengalaman dari kakak sepupu saya yang dulu pernah 'dititipkan' di pesantren. Kakak sepupu saya ini memang mengalami hal yang tidak mengenakan, tapi tidak separah persepsi yang ditanamkan di otak saya. Karena...

Surat Cinta untuk Rabbnya - Tertatih

Ribuan tahun lalu, jiwa saya di sana, di Arsy, bersama Rabbnya. Mungkin pernah 'melihat' Rabbnya sebelum akhirnya ditiupkan ke dalam alam rahim. Jiwa manusia selalu dan senantiasa milik Yang Kuasa. Mungkin itu juga mengapa jiwa-jiwa yang Allah kehendaki akan memberi tanda pada diri jika sudah keluar dari jalurnya. Jiwa itu akan merasa sedih dan jauh dari Yang Mencipta. Saya kenapa? Allah tak berjarak, sama sekali tidak. Ia dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia. Meski Allah bersemayam di Arsy dan manusia di bumi.. jiwa-jiwa hambaNya selalu dekat denganNya. Memang jiwa manusia milik Allah. Jiwa ini tahu bahwa ia sedang jauh dari Rabbnya. Jiwa ini bersedih, lantas diri tidak menyadari. Raga selalu lalai, tapi jiwa dengan izin Allah seringkali membawanya kembali. Aku dekat, hambaKu. Aku dekat.. Lalu hamba ini dengan tertatih dan perlahan kembali menuju Rabbnya. Atas apapun yang akan terjadi.. hamba ini selalu punya Rabbnya.

Di sini Ada Orang.

Makhluk-makhluk itu kembali bercuap. Hah. Entah apa yang mereka perbincangkan. Masih terlalu banyak hal-hal yang harus dikerjakan agar roket itu cepat jadi. Mereka memanggilku, bukan untuk bersenang-senang sepertinya. Seperti biasa. Agar pekerjaan mereka cepat selesai. Dasar makhluk bermacam rupa, pikirku. Seperti mendapat getaran, aku merasakan. Makhluk bermacam rupa itupun mengajak makhluk-makhluk lainnya untuk makan di Kedai Asdafgha. Kedai terkenal, bagi mereka. Hei. Aku disini. Apa aku tidak terlihat? Dasar makhluk aneh! 

#NotetoMySelf Tiga Kunci

Hari ini saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang saya sudah berada dalam sebenar-benarnya kehidupan. Lulus dari perkuliahan lantas tidak membuat kehidupan saya lebih mudah, malah membuat saya harus selalu menguatkan diri saya dan tidak boleh lagi cursing diri saya. Untuk diri saya, ini adalah tiga kunci yang saya berikan sebagai pengingat setiap detiknya. Tetaplah bungkus pikiranmu bahwa dunia ini hanya sementara ketika kamu mulai lelah, namun jangan pernah berhenti. You can take a break, but don't quit . Istigfar - Sudah berpikir berapa banyak dosa yang kamu lakukan tiap detiknya? Maka perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan memaafkan sedikit demi sedikit tumpukan dosamu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan mempermudah langkahmu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan selalu mengizinkanmu untuk dapat dekat denganNya. Tahmid - Sudah pernah mencoba menghitung nikmat apa yang Allah berikan kepadamu setiap menitnya? Kamu p...