Langsung ke konten utama

Postingan

#NotetoMySelf Tiga Kunci

Hari ini saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa sekarang saya sudah berada dalam sebenar-benarnya kehidupan. Lulus dari perkuliahan lantas tidak membuat kehidupan saya lebih mudah, malah membuat saya harus selalu menguatkan diri saya dan tidak boleh lagi cursing diri saya. Untuk diri saya, ini adalah tiga kunci yang saya berikan sebagai pengingat setiap detiknya. Tetaplah bungkus pikiranmu bahwa dunia ini hanya sementara ketika kamu mulai lelah, namun jangan pernah berhenti. You can take a break, but don't quit . Istigfar - Sudah berpikir berapa banyak dosa yang kamu lakukan tiap detiknya? Maka perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan memaafkan sedikit demi sedikit tumpukan dosamu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan mempermudah langkahmu. Perbanyaklah istigfarmu dengan harapan Allah akan selalu mengizinkanmu untuk dapat dekat denganNya. Tahmid - Sudah pernah mencoba menghitung nikmat apa yang Allah berikan kepadamu setiap menitnya? Kamu p...

#PoemSeries Si Ingin Dekat

Telah lama diri ini ingin mendekat pada yang lain untuk mengenal untuk membuat mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri Namun, si ingin dekat ini harus menerima bahwa yang lain pun butuh jarak butuh spasi dalam setiap hubungannya pertemanan pun percintaan Si ingin dekat ini kemudian belajar untuk memahami bahwa tidak semua kotak kehidupan dapat ia dekati walau hanya untuk mengintip Si ingin dekat ini selalu berusaha untuk berada di sisi mereka namun ia berulangkali lupa ia pun harus selalu hadir untuk dirinya menghibur dirinya Jarak -  Si ingin dekat kemudian belajar untuk berjarak memberi jarak pada kotak kehidupan lainnya Ia berpikir mungkin jarak akan menyembuhkan mungkin jarak akan menguatkan mungkin jarak akan kembali membuat mereka dekat.

#NotetoMySelf: Allah akan Mengurus Masalahmu

Waktu lalu, saya pernah bertanya pada diri saya sendiri, kenapa sih mesti sepeduli itu dengan orang lain? Kenapa sih selalu ingin berada di sisi orang lain ketika mereka sedih? Emang mereka sepeduli itu sama lo? Emang mereka selalu ada di saat lo lagi butuh semangat? Emang mereka seberusaha itu buat lo? Nggak kan? Perasaan dan pikiran negatif selalu berada di sekitar saya ketika hormon progsteron saya sedang tinggi. Saat-saat seperti ini membuat saya selalu kesal dengan diri saya sendiri dan down-grading diri saya sendiri. Rasanya saya ingin separate dari diri saya sendiri yang padahal yang sedang berpikir ini juga ya diri saya sendiri. How complicated, huh?  Lalu saya sempat ingin berhenti untuk peduli dengan sekitar saya; pura-pura tidak tahu. Perhitungan saya ternyata masih tentang dunia. Perhitungan saya masih tentang jika saya memberikan orang 1, ya saya pun harus menerima 1. Tapi, perhitungan manusia tidak pernah akan seindah dan sebaik perhitungan Allah. Saya ba...

Percaya dan Yakin

Sebagai muslim, perkara percaya dan yakin adalah poin yang penting. Saya sudah menjadi seorang yang beragama Islam, namun baru memahami arti percaya dan yakin ini beberapa bulan terakhir. Kebanyakan manusia harus diberikan ujian dahulu baru memahami apa yang Allah maksud. Lagi-lagi Allah terlalu baik pada hambaNya ini. Pada hakikatnya, manusia tidak mampu bahkan tidak sanggup untuk mengurusi semua urusan dunianya. Dalam beberapa peristiwa yang saya alami beberapa bulan ini membuat saya mulai sedikit demi sedikit menyertakan Allah dalam setiap urusan saya. Dari hal sangat penting sampai hal kecil dari hidup saya. Kenapa harus pelan-pelan? Menurut saya, saya masih dalam tahap belajar, sehingga saya tidak ingin terburu-buru dan ingin menikmati proses saya mendekati Yang Kuasa. Dalam proses yang pelan-pelan ini pun saya masih sering khilaf dan lupa menyertakan Allah dalam setiap urusan saya. Tapi lagi-lagi Allah Maha Baik, mengingatkan hambaNya kembali. Saya mulai membangun percaya ...

#NotetoMySelf: Allah Tidak Tidur

Beberapa hari ini saya berpikir bahwa mempelajari ilmu agama dengan sebaik-baiknya adalah penting. Bagian yang menurut saya paling penting adalah mengenai kefanaan dunia. Dunia itu hanya sementara, saudaraku. Dalam Alquran, Allah mengatakan setidakberharganya semua kenikmatan dunia, dibandingkan dengan kenikmatan Akhirat yang akan Allah berikan kelak. Tiap saya merasa bahwa nikmat yang sebenarnya adalah kesenangan dunia, saya selalu berusaha mengingat bahwa kenimatan dan kebahagiaan dunia itu semua. Dunia itu tidak kekal, Dunia itu sementara. Bahkan perbanyaklah memohon kepada Allah agar tidak menempatkan dunia di dalam hati kita, tapi cukup dalam genggaman tangan saja. Betapa sedihnya saya, ketika pemahaman tentang dunia ini belum sampai pada satu pihak yang beberapa hari ini membuat saya banyak beristigfar. Sebesar itukah penggambaran nikmat dunia yang setan gambarkan pada hati dan pikiran kalian? Apakah tidak terbersit sedikitpun dalam benak kalian bahwa orang yang kalian dzali...

Tinggal dan Menetap

"I always loved him, but he was never home" -Atticus Saya selalu suka dengan analogi rumah. Mencari orang yang akan menjadi tujuan pulang ketika kita sudah lelah berkelana. Mencari orang yang akan menyejukan hati ketika hanya melihatnya. Mencari orang yang bersedia berbagi keluh dan kesah dan bersedia menyediakan bahu dan tangannya untuk dapat kita singgahi untuk sekedar melepas lelah. Itulah rumah. Rumah selalu menjadi tujuan pulang ketika kita sudah penat menjelajah dunia luar. Rumah menjadi tempat beristirahat dari hal apapun. Mencari orang yang tepat untuk menemani hari-hari selamanya, seperti mencari rumah untuk dapat kita tinggali selama bertahun-tahun. Dalam usia sekarang, saya masih mencari rumah saya. Dan tiga tahun yang lalu, saya merasa seperti menemukan rumah saya. Saya berusaha untuk mengisinya dengan hal-hal yang baik agar ia nyaman untuk saya tinggali. Namun, usaha saya terlalu berlebih. Rumah itu ternyata tidak nyaman untuk saya tinggali. Saya pergi de...

Am I Deserve?

Satu lagi titik yang sedang saya pijak di fase kehidupan ini. Titik yang bahkan untuk membayangkannya saja saya terlalu takut.  Lalu pikiran saya memutar kembali ke ingatan beberapa bulan sebelum saya sampai pada titik ini. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan takut dan gelisah kala itu. Saya-belum-menemukan-judul-untuk-skripsi-saya. Tertekan? Tentu. Pusing? Banget! Saya sampai berpikir bahwa, yasudahlah tahun depan saja lulusnya. Saya merasa sudah dititik enggan untuk mencari topik apa yang menarik untuk saya teliti. Saya merasa, ah gini doang nanti , ah gak seru .  Dan, akhirnya saya pasrah. Saya pasrah sepasrah-pasrahnya manusia yang pasrah. Saya berdialog dengan Allah dalam masa kebingungan itu. Saya hanya mengandalkan "Ya Allah tolong berikan saya judul yang bisa membawa keberkahan untuk saya, saya mampu untuk mengerjakannya, dan membawa saya pada kelulusan." Tiap lima hari sekali ataupun pada waktu-waktu lainnya. Plus menangis. Saya tahu berdoa tanpa u...