Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Cinta untuk Rabbnya - Janji

Gemuruh yang beberapa waktu lalu menemani hari-hari hingga mengganggu cara berpikir, kini mulai reda. Pertanyaan-pertanyaan yang tiap hari ada di pikiran perlahan hilang satu persatu. Mulai menemukan jawabnya. Seberapa banyak sesak yang mendera, Allah hanya minta hambaNya agar menghadapNya dan sabar. Allah tidak minta hambaNya untuk mencari solusi, menyelesaikan masalahnya sendiri. Allah yang akan selesaikan. Ia bahkan berfirman dua kali bila setelah kesulitan, ada kemudahan. Janji siapa yang paling benar? Tentu hanya janji Allah semata. Dia yang mendekatkan, Dia pula yang menjauhkan. Dia yang memberi, Dia pula yang mengambil kembali. Sejatinya, manusia memang tidak pernah memiliki. Ia hanya titipi, tiap-tiap yang ada. Hingga nanti, semua akan kembali.  "Aku dekat, hambaKu..", ujarnya di tiap-tiap malam ketika para hamba malah tertidur lelap.

Surat Cinta untuk Rabbnya - Cukup

Secukup-cukupnya bahkan melebihi dari apa yang seharusnya diterima adalah cinta Allah pada hambaNya. Manusia sibuk mencari-cari cinta dari makhluk tapi lupa cinta dari Yang Maha Menyayangi, Maha Mengasihi jauh lebih luas dan tidak melihat kondisi. Saya sibuk mencari makhluk untuk mencukupkan sayangnya, tapi saya tidak lihat bahwa sayangnya Allah pada saya seharusnya lebih cukup. Saya sibuk mencari makhluk yang bisa mengisi hari-hari, menemani dalam sedih, jadi tempat bercerita atas apapun.. tapi lupa bahwa saya selalu punya Allah yang ada di tiap apapun situasi saya. Yang Maha Mendengar tiap keluh kesah. Seharusnya.. hati saya selalu cukup atas cinta Allah. Mana lagi cinta yang paling tulus dan tak bersyarat selain cinta Allah pada hambaNya? Jujur dengan Allah.. biarkan Dia menyentuh hatimu yang sudah lalai berulang kali ini.  "Hati manusia berada di antara jari jemari Rabbnya."

Surat Cinta untuk Rabbnya - Tertatih

Ribuan tahun lalu, jiwa saya di sana, di Arsy, bersama Rabbnya. Mungkin pernah 'melihat' Rabbnya sebelum akhirnya ditiupkan ke dalam alam rahim. Jiwa manusia selalu dan senantiasa milik Yang Kuasa. Mungkin itu juga mengapa jiwa-jiwa yang Allah kehendaki akan memberi tanda pada diri jika sudah keluar dari jalurnya. Jiwa itu akan merasa sedih dan jauh dari Yang Mencipta. Saya kenapa? Allah tak berjarak, sama sekali tidak. Ia dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia. Meski Allah bersemayam di Arsy dan manusia di bumi.. jiwa-jiwa hambaNya selalu dekat denganNya. Memang jiwa manusia milik Allah. Jiwa ini tahu bahwa ia sedang jauh dari Rabbnya. Jiwa ini bersedih, lantas diri tidak menyadari. Raga selalu lalai, tapi jiwa dengan izin Allah seringkali membawanya kembali. Aku dekat, hambaKu. Aku dekat.. Lalu hamba ini dengan tertatih dan perlahan kembali menuju Rabbnya. Atas apapun yang akan terjadi.. hamba ini selalu punya Rabbnya.

Surat Cinta untuk Rabbnya - Nikmat

Lagi-lagi saya jauh. Jatuh, menggebu, terjerembab dalam kubangan yang dahulu pernah saya ikrarkan tak lagi akan seperti itu. Bolehkah saya kembali berkata saya hanya manusia, tempat segala lupa. Tempat segala salah bersemayam. Lupa diri. Diambil. Sendiri. Diambil? Bahkan apa-apa yang ada bukanlah milik saya. Bahkan diri saya bukanlah milik saya. Jiwa saya sepenuhnya selalu milik Yang Kuasa. Lantas, mengapa menyakiti? Manusia ini hanya bisa terdiam. Berpikir tentang hal-hal yang tak bisa dia ubah karena terlanjur terjadi. Memperbaiki pun tak membuat hal tersebut kembali berdiri seperti sedia kala, tanpa cela, sempurna. Sekali lagi manusia ini menyadari, ia tak kuasa, bahkan untuk dirinya. Lalu, untuk apa terlalu percaya diri bahwa ia tak perlu lagi bersimpuh dalam-dalam dan meminta dengan serendah-rendahnya? Jemawa. Angkuh. Dirinya hanya setitik debu, tak terlihat di alam semesta yang tercipta dalam sekejap, jentikan jari Tuhannya dalam 6 hari. Nikmat. Lagi-lagi nikmat membuatnya lalai....

Surat Cinta untuk Rabbnya - Niat

Iman manusia itu tidak tetap, cenderung naik dan turun. Rasul yang benar-benar Allah jaga saja masih banyak-banyak berdoa agar ditetapkan iman Islamnya. Akhir-akhir ini sedang kembali memperbaiki niat dalam banyak hal terutama ibadah. Niat 'karena Allah' itu kadang masih bias. Jadi ketika ingin ibadah, mempertanyakan lagi, saya niat sholat untuk apa ya? Udah benar karena Allah belum ya? Atau karena sudah terbiasa sholat jadi ya kurang saja kalau belum sholat.  Bahkan, hingga sekarang saya masih meraba bekerja karena Allah itu seperti apa. Niat juga berhubungan dengan yang namanya muraqabah; perasaan yang membuat kita sadar bahwa Allah Maha Melihat dan Mengawasi hamba-Nya. Sifat ini yang lagi saya pupuk pelan-pelan agar apa-apa yang saya kerjakan saya selalu ingat, Allah lihat loh. Bukan hanya di permukaan, tapi sampai titik terdalam diri. Perkara niat ini cukup menyentil karena kajian Ust. Oemar Mita. Dalam videonya beliau bilang, 'niat ibadah karena Allah itu utama,...

Hingar Bingar Semu

Media sosial terasa menyesakkan. Keinginan untuk menghilang dari hingar bingar keramaian semu semakin membuncah. Mendesak di sana sini. Tapi bisa apa? Belum bisa apa-apa, selain menguatkan diri, mengambil jarak sebisa mungkin. Membuka seperlunya, sekadar untuk menunaikan kewajiban. Hingar bingar semu ini sudah tidak baik untuk diri sendiri. Kegelisahan mendera tiap melihat lini masa yang tidak damai. Keributan, yang bahkan tidak di dekat diri, bisa menimbulkan keresahan dalam diri. Butuh waktu untuk meredakan. Ah sedang muak-muaknya, sedang ingin menghilang, sedang tidak ingin dijangkau oleh siapapun. Andai saya bisa pergi sebentar, sekadar menenangkan isi kepala yang sedang suntuk. Hampir-hampir di puncaknya. Keluhan untuk meliburkan diri agaknya akan terus ada sampai pada hari saya benar-benar libur. Melepaskan diri dari cengkeraman laptop dan ponsel selular. Rasanya saya harus cepat-cepat mencari hal lain agar tidak terkungkung dalam perasaan gelisah yang sudah berhasil saya redam b...

Surat Cinta untuk Rabbnya - Penghujung Waktu

Ampunan, keberkahan, rahmat, dan banyak nikmat lainnya Allah limpahkan dalam satu bulan ini, di bulan Ramadan. Hadiah untuk 10 malam terakhir pun tidak main-main - lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Bahkan umur manusia di zaman ini tidak akan sampai sebegitu lamanya. Hadiah yang begitu besar ini setara pula dengan godaan duniawinya. Dengan narasi kemenangan, dengan narasi menyambut Idulfitri, tak jarang orang jadi terlena - melonggarkan ikat pinggang. Banyak kegiatan di siang hari, kelelahan di malam hari - hingga tak ada waktu untuk menghidupkan malam-malam yang paling Allah berkahi. Rasulullah pada malam-malam ini mengurangi tidurnya dan terjaga, berdiri hingga kakinya bengkak. Pun seorang sahabat bertanya,  'Mengapa engkau sholat sampai sebegitunya ya Rasul, padahal Allah telah menjamin surgamu?' 'Apakah aku tidak boleh bersyukur pada Allah atas segala nikmat yang sudah Ia limpahkan padaku?' Rasulullah bermunajat hingga bengkak kakinya. Salah sat...